Sedikit mengutip Anies Baswedan, IPK yang tinggi akan membawa kamu lolos seleksi administrasi dalam mencari pekerjaan, selanjutnya yang akan berperan adalah kemampuan kepemimpinan ditambah pengetahuan yang luas.
Mengutip obrolan anak sma sewaktu saya masih SMP, mereka berujar untuk apa sekolah?, karena pada saat ini sebagian besar manusia melakukannya hanya untuk formalitas saja, hanya sedikit yang mencari ilmu untuk menambah pengetahuannya.
berkaitan dengan hal tersebut, kita sebagai manusia telah dikerdilkan, dikungkung oleh sekat-sekat formalitas, sehingga pendidikan yang dikejar adalah angka-angka penilaian yang pada ujungnya untuk meningkatkan strata, kelas dan berakhir pada pendapatan yang besar. lalu setiap manusia diarahkan untuk ahli dalam satu bidang, lagi-lagi tersekat oleh nilai-nilai formalitas.
apakah kemampuan akal kita hanya mampu mendalami satu bidang ilmu?
apakah kita akan membiarkan pendapat orang membatasi potensi besar akal yang dapat mamahami segala sesuatu dengan sekat-sekat formalitas tentang keahlian?
apakah ilmu pengetahuan pada akhirnya hanya kita gunakan untuk mendapat pekerjaan yang dianggap layak dan peningkatan status sosial saja?
apakah ilmu pengetahuan kita gunakan untuk menindas manusia lainnya yang dianggap pendidikannya lebih rendah?
apakah ilmu pengetahuan ini digunakan untuk membuat kerusakan dimuka bumi?
apakah ilmu pengetahuan kita gunakan untuk melunturkan keimanan dan menggugat serta menafikan keberadaan Tuhan?
Apakah seperti itu tujuan menambah pengetahuan dan memperluas wawasan?
"Setiap orang tidak akan pernah puas terhadap berbagai hal, hingga mereka menemukan bagaimana caranya bersyukur"
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Tuesday, September 9, 2014
3 Golongan Manusia
Allah tidak memperhitungkan manusia berdasarkan suku bangsa, warna kulit, kekayaan maupun kekuasaan, yang diperhitungkan adalah derajat ketaqwaannya. namun demikian ada 3 golongan manusia, yaitu:
1. Golongan Muslim yaitu orang yang berpasrah diri menjalankan seluruh perintah dan larangan ALLAH SWT sesuai dengan yang dijelaskan dalam kitab suci.
2. Golongan Munafik yaitu orang yang menerima sebagian perintah dan larangan ALLAH SWT, dan menolak sebagian lainnya.
3. Golongan Kafir yaitu orang yang menolak tunduk dan berpasrah diri dengan segala perintah dan larangan ALLAH SWT.
Dengan kebersihan hati dan tanpa pembenaran, silahkan renungkan saat ini anda termasuk golongan yang mana?
silahkan berfikir dari 3 golongan diatas, manakah yang paling logis mendapatkan derajat yang paling tinggi?
setiap golongan memiliki konsekuensinya masing-masing
1. Golongan Muslim yaitu orang yang berpasrah diri menjalankan seluruh perintah dan larangan ALLAH SWT sesuai dengan yang dijelaskan dalam kitab suci.
2. Golongan Munafik yaitu orang yang menerima sebagian perintah dan larangan ALLAH SWT, dan menolak sebagian lainnya.
3. Golongan Kafir yaitu orang yang menolak tunduk dan berpasrah diri dengan segala perintah dan larangan ALLAH SWT.
Dengan kebersihan hati dan tanpa pembenaran, silahkan renungkan saat ini anda termasuk golongan yang mana?
silahkan berfikir dari 3 golongan diatas, manakah yang paling logis mendapatkan derajat yang paling tinggi?
setiap golongan memiliki konsekuensinya masing-masing
Wednesday, April 7, 2010
PERAN KEYAKINAN DAN KETABAHAN
Rahasia keberhasilan orang terletak pada duah hal: keyakinan pada tujuan dan kedua, keteguhan dan usaha untuk mendapatkannya keyakinan adalah desakan batin yang mendorong manusia menuju sasarannya, dan menggugahnya siang malam untuk mencapai tujuannya, karena ia sangat yakin bahwa kesejahteraan, keunggulan, kemakmuran, dan keberhasilannya berhubungan dengan itu.
Kekuatan keyakinan dengan sendirinya mengarahkan dan meyakinkannya untuk mengatasi semua kesulitan dan menjauhkannya dari setiap keraguan, kendati kemakmurannya mungkin bergantung pada tercapainya target tertentu. misalnya, orang sakit yang menyadari bahwa kesembuhan dan kesegarannya tergantung pada obat yang pahit, akan meminum obat itu dengan senang hati; penyelam yang yakin ada mutiara berharga di bawah laut, akan menerjunkan dirinya ke dalam air tanpa takut dan muncul ke permukaan lagi setelah tujuan tercapai. namun, bila si sakit dan penyelam ini meragukan kemungkinan berhasilnya tujuan mereka, atau sama sekali tak yakin akan manfaat usahanya, mereka tak akan mengambil tindakan tersebut; kalaupun mereka lakukan, mereka akan merasa kesukaran dan penderitaan. dengan demikian, kekuatan iman dan keyakinanlah yang mengatasi banyak kesulitan.
Bagaimanapun tak diragukan bahwa pencapaian sasaran berkaitan erat dengan kesulitan dan rintangan. karena itu adalah penting melawan rintangan dan melakukan upaya yang perlu untuk itu dengan mengerahkan kekuatan penuh, sehingga seluruh halangan dapat dihilangkan.
Dikatakan sejak dulu bahwa dimana ada mawar (sasaran paling berharga), di situ ada duri (kesulitan). maka mawar harus dipetik sedemikian rupa sehingga duri tidak menusuk tangan dan kaki..
nb : makasih buat seseorang yang menjadi inspirasi penulisan tulisan ini....
Saturday, December 12, 2009
Sulitnya mencari dan membaca buku...!!!
Saya sebagai mahasiswa terkadang sulit mencari buku atau literatur berbahasa asing apalagi mencari terjemahan dari buku-buku tersebut (maklum saya tdk pandai dalam berbahasa asing) dan kejadian ini saya pikir bukan di alami oleh saya saja, sehingga sedikit banyak itu menghambat dalam mencari atau menambah ilmu pengetahuan.lalu apakah ini sepenuh nya salah saya dan orang-orang yang terbatas dalam berbahasa asing?? memang salah namun disini pun pemerintah memiliki tanggung jawab. karena salah satu tujuang negara kita itu mencerdaskan kehidupan bangsa. untuk biaya sekolah/kuliah aja megap-megap apalagi harus ikut les bahasa asing.
selain itu pula terlihat fenomena dimana sekarang sekolah-sekolah berlomba-lomba memakai bahasa asing terutama bahasa inggris,, artis-artis atau pejabat-pejabat, bahkan para akademisi berlomba-lomba ketika berbicara di depan media mengutip bahasa-bahasa asing (inggris). itu semua dilakukan dengan alasan bahwa kita menuju era globalisasi dan harus pandai berbahasa asing.
okay saya sepakat kita pun harus pandai dalam berbahasa, tapi saya lebih sepakat kalau bahasa yang dipakai di indonesia ya bahasa indonesia dan bahasa suku-suku yang ada di indonesia jangan dicampur-campur dengan bahasa asing terutama bahasa inggris. saya khawatir orang lebih bangga memakai bahasa inggris dan yang memakai bahasa indonesia dianggap kampungan terus kalau pake bahasa daerah disebut aneh,, kecenderungannya sih kearah situ.
dengan pernyataan saya diatas tadi akan ada yang berpendapat , wah kalo gitu kita bisa tertinggal dong kan literatur dan buku kan banyak yang bahasa asing (inggris). dari sini saya melihat kesalahan atau kekurangan yang di buat pemerintah, seharusnya dalam membuat masyarakat cerdas pemerintah melakukan segala cara (yang halal).
salah satu kebijakan yang bisa digunakan agar kita tetap menghargai bahasa indonesia dan bahasa daerah kita tetapi tidak tertinggal dalam bagian ilmu pengetahuan, yaitu mewajibkan memakai bahasa daerah ketika berada di lingkungan dan berbicara dengan orang-orang yang suku nya sama,, dan mewajibkan berbicara bahasa indonesia ketika berbicara dengan dan berada di lingkungan yang heterogen.. tapi tidak dilarang untuk belajar bahasa asing tapi bahasa asing itu digunakannya jangan di indonesia (namun pengecualian kalo bahasa asing yang digunakan dalam beberapa agama yang ada di indonesia).
kemudian pemerintah pun menyuruh ahli-ahli bahasa untuk menterjemahkan seluruh buku yang berbahasa asing yang beredar di indonesia dan buku-buku berbahasa asing yang menjadi literatur sehingga itu memudahkan masyarakat untuk membaca sebuah buku.
yang kedepannya menjadikan, kita manusia indonesia yang berkualitas dan tidak lupa dengan darimana dia berasal..
Belajar Dari Ki hajar dewantara
Saat ini dalam kehidupan kampus kita melihat bagaimana sebagian besar mahasiswa kurang antusias dalam setiap kegiatan yang di selenggarakan di kampus baik sebagai panitia maupun menjadi pesertanya. Maka akan timbul pertanyaan bagaimana ya untuk dapat menggerakan mahasiswa-mahasiswa tersebut agar dapat meningkat tingkat partisipasinya.Kita tidak perlu membolak-balik buku henry fayol tentang manajemen atau para peneliti asing lainnya. Sudah saatnya kita menjunjung tinggi nilai kearifan lokal. Dapat kita lihat apa yang pernah diungkapkan oleh ki hajar dewantara yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
Yakin nih kita bisa menggerakkan mahasiswa dengan 3 kalimat yang mungkin bagi setiap anak muda jaman sekarang adalah sekumpulan kalimat yang jadul, ketinggalan jaman, kampungan dan lain sebagainya. Ya , kalimat ini akan terasa kampungan apabila kita tidak memaknai setiap kalimat ini dan membiarkannya ter-onggok dengan bahasa daerahnya itu.
Dari pengalaman saya yang masih sedikit ini saya melihat sebenarnya ada tiga tipe yang bisa membuat atau dapat menggerakkan tingkat partisipasi mahasiswa dalam setiap kegiatan kampus dan ini menjadi tanggung jawab para pemimpin mahasiswa.
Pertama, ada tipe mahasiswa yang akan bergerak ketika diberi contoh atau di beri teladan, artinya mahasiswa ini akan bergerak atau ikut berpartisipasi, apabila melihat orang yang ia teladani pun ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan di kampus.
Kedua, ada tipe mahasiswa yang akan berpartisipasi apabila di beri motivasi bahwa setiap kegiatan itu penting, penting bagi dirinya, lingkungannya bahkan penting bagi setiap orang.
Ketiga, ada tipe mahasiswa yang baru akan bergerak ketika dia di dorong-dorong terus atau sedikit di paksa baru dia mau bergerak.
Jika kita mengaitkan dengan apa yang dikatakan oleh ki hajar dewantara yaitu sebagai berikut:
Pertama, ing ngarso sung tulodo. Kalimat ini bermakna berdiri didepan memberikan teladan, hal ini memang sangat diperlukan oleh seorang pemimpin. Dapat dimaknai bahwa sesungguhnya setiap apa yang dilakukan oleh pemimpin itu akan di contoh oleh para pengikutya, dalam hal ini maka pemimpin ketika berada di depan seharusnya memberikan teladan yang baik kepada para pengikutnya bukan memberikan contoh-contoh yang tidak baik.
Kedua, ing madyo mangun karso, artinya berdiri di tengah memberikan motivasi. Dapat dikatakan bahwa pemimpin itu harus dapat memotivasi para pengikutnya untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas. Terus memompa semangat orang-orang yang dipimpin nya sehingga tidak kendur dalam berjuang melakukan sesuatu.
Ketiga, tut wuri handayani, memiliki makna berdiri di belakang memberikan dorongan, yaitu dorongan untuk maju agar masyarakat yang dipimpinnya tidak terlena dalam kemapanan semu. Memberikan dorongan untuk terus maju, maju dan maju.
Semuanya merupakan makna sederhana yang saya ambil dari ketiga kalimat sakti ini,dan hal ini pula lah yang saya pikir dapat menjadi sebuah alat untuk menggerakkan kembali pergerkan mahasiswa, serta ketika saya coba lihat dan mengklasifikasikan keadaan situasi kondisi masyarakat kita,jika 3 kalimat ini bisa di maknai pula oleh para calon pemimpin bangsa maka akan menjadi modal dasar untuk mencapai NUSANTARA JAYA.
Subscribe to:
Posts (Atom)
